Cahaya matahari adalah salah satu faktor agar tumbuhan dapat bertumbuh dan berkembang. Eksperimen ini membuktikan bahwa jagung yang ditanam di tempat yang banyak disinari matahari (atas) lebih besar hasilnya hingga bisa berukuran satu lengan anak-anak daripada yang ditanam di tempat yang intensitas cahaya mataharinya kurang (bawah) yang ukurannya sekitar 10-15 sentimeter.
Minggu, 04 Mei 2014
TANDA NOMOR KENDARAAN INDONESIA
1. A: Banten
2. B: Jakarta
3. D: Bandung
4. E: Cirebon
5. F: Bogor
6. G: Pekalongan
7. H: Semarang
8. K: Jepara-Rembang
9. L: Surabaya
10. M: Madura
11. N: Malang
12. P: Besuki
13. R: Banyumas
14. S: Bojonegoro
15. T: Kerawang
16. Z: Sumedang, Garut, Ciamis, Tasik Malaya
17. AA: Jawa Timur
18. AB: Yogyakarta
19: AD: Surakarta
20. AE: Madiun
21. AG: Kediri
22. BA: Sumatra Barat
23. BB: Tapanuli
24. BD: Bengkulu
25. BE: Lampung
26. BG: Sumatra Selatan
27: BH: Jambi
28. BK: Sumatra Utara
29. BL: NAD
30. BM: Riau
31. BN: Banka, Baliton
32. DA: Kalimantan Selatan
33. DB: Minahasa-Manado-Bitung
34. DD: Sulawesi Selatan
35: DE: Maluku Selatan
36. DG: Maluku Utara
37. DK: Bali
38. DL: Sanghie Talaud
39. DM: Bolang Mongondow & Gorontalo
40. DN: Silawesi Tengah
41. DR: Lombok
42: DS: Irian Jaya
43. DT: Sulawesi Tengah
44. DH: NTT
45. EA: Sumbawa
46. EB: Flores
47. ED: Sumba
48. KB: Kalimantan Barat
49. KT: Kalimatan Timur
50 KT: Kalimantan Tengah
51. CC: Korps Consul
52. CD: Korps Diplomatik
2. B: Jakarta
3. D: Bandung
4. E: Cirebon
5. F: Bogor
6. G: Pekalongan
7. H: Semarang
8. K: Jepara-Rembang
9. L: Surabaya
10. M: Madura
11. N: Malang
12. P: Besuki
13. R: Banyumas
14. S: Bojonegoro
15. T: Kerawang
16. Z: Sumedang, Garut, Ciamis, Tasik Malaya
17. AA: Jawa Timur
18. AB: Yogyakarta
19: AD: Surakarta
20. AE: Madiun
21. AG: Kediri
22. BA: Sumatra Barat
23. BB: Tapanuli
24. BD: Bengkulu
25. BE: Lampung
26. BG: Sumatra Selatan
27: BH: Jambi
28. BK: Sumatra Utara
29. BL: NAD
30. BM: Riau
31. BN: Banka, Baliton
32. DA: Kalimantan Selatan
33. DB: Minahasa-Manado-Bitung
34. DD: Sulawesi Selatan
35: DE: Maluku Selatan
36. DG: Maluku Utara
37. DK: Bali
38. DL: Sanghie Talaud
39. DM: Bolang Mongondow & Gorontalo
40. DN: Silawesi Tengah
41. DR: Lombok
42: DS: Irian Jaya
43. DT: Sulawesi Tengah
44. DH: NTT
45. EA: Sumbawa
46. EB: Flores
47. ED: Sumba
48. KB: Kalimantan Barat
49. KT: Kalimatan Timur
50 KT: Kalimantan Tengah
51. CC: Korps Consul
52. CD: Korps Diplomatik
Jumat, 25 April 2014
Rabu, 23 April 2014
Cerpen: Seuntai Doa, Secangkir Harapan
Aku
duduk di dahan pohon rambutan di pekarangan rumahku. Kugoreskan pensil di atas
kertas putih yang lusuh. Kemudian aku menatap ke dahan di sebelah kananku. Aku
melihat bayi-bayi burung di sebuah sarang. Kemudian kupalingkan muka ke kertas
lagi. Kembali kugoreskan pensil. Saat sedang asyiknya, tiba-tiba ada suara yang
memanggilku, “Anne, di mana kau?”
Itu
suara kakakku. “Aku di pohon”, sahutku. Kudengar langkah kakakku bergegas
kemari. “Sedang apa kau di sana?”, tanya kakakku dari bawah. “Cuma sedang
menggambar burung”, jawabku dengan santai. “Tunggu! Aku mau lihat,” seru
kakakku sambil memanjat dengan cekatan. “Wah, lucunya! Bagaimana kamu bisa
menemukannya?”, tanya kakakku sesampai di atas. “Secara kebetulan saja. Aku
sedang menyapu, tiba-tiba kudengar suara burung berkicau. Lalu aku memanjat
pohon ini. Aku melihat ada induk burung ini. Sejak itu aku sering ke sini. Pagi
itu, aku melihat si betina sedang mengerami telurnya. Aku senang sekali waktu
itu. Makin rajin aku datang ke sini. Tadi pagi kulihat anak-anaknya sudah
menetas. Lalu muncul ide untuk menggambar mereka”, jawabku sambil terus menggoreskan
pensil. Kakakku menatap bayi-bayi burung itu. “Mengapa kamu tak pernah cerita?
Kamu kan tahu aku senang pada satwa.”
“Yah,
waktu itu aku takut burung-burung ini merasa terganggu. Maaf, deh. Lain kali
aku akan cerita”, kataku sambil memandang kakakku yang jangkung itu. Kakak
hanya tersenyum. Dia melirik gambarku. “Mirip sekali gambarmu dengan mereka.
Aku heran mengapa teman-temanmu selalu mencemooh gambarmu?” Aku menghela nafas
panjang, lalu melanjutkan gambarku. “Mereka menganggap orang tak mampu seperti
kita tak pantas dihargai. Kakak kan tahu sendiri. Tapi untungnya guru-guru di
sekolah selalu membesarkan hatiku. Tapi tetap saja tidak enak berada di kelas
yang tidak ramah. Mungkin gambarku memang jelek!”
Kakak
merangkul bahuku. “Sudahlah, dik. Tuhan sedang menunjukkan jalan yang terang
buatmu. Buktinya kamu bisa dapat beasiswa dari sanggar seni milik Om Nyoman. Padahal kamu
hanya sedang melukis di taman kota yang tidak tahu ternyata sedang berlangsung
lomba lukis, lalu Om Nyoman tak sengaja melihat gambarmu dan bercerita ke yang
lain. Beberapa hari kemudian Om Nyoman datang dan mengatakan akan memberikanmu
beasiswa untuk bersekolah di sekolah terbaik di kota ini. Kau beruntung sekali
mempunyai talenta yang hebat!” Kakak menggenggam tanganku. “Jangan cemas. Kami
akan selalu mendukungmu.” Aku hanya tersipu.
“Itu
suara Ibu memanggil kita. Yuk!” ajak Kak Andi. “Kami datang, Bu!”, seru Kak
Andi. “Kemana saja kalian?”, tanya ibu. “Om Nyoman sudah menunggu kalian sejak
tadi.” Aku terperanjat. Aku langsung menemui laki-laki yang duduk di kursi
rotan itu. “Sore, Om”, ucapku seraya menyalami Om Nyoman. “Halo, Anne. Di mana
kakakmu? Oh, itu dia. Bagaimana kabar kalian di sekolah?” “Nilaiku lumayan.
Tapi teman-teman masih menjauhiku.” Aku menyeletuk.
“Kamu
tidak boleh menyerah! Mungkin mereka hanya iri saja. Kamu jangan pernah
berhenti menggambar. Saya yakin kelak kamu akan menjadi pelukis ternama!” kata
Om Nyoman. “Mmm... Om memangnya ada perlu apa kemari?” tanya Kak Andi. Om tersenyum,
“Om ke sini untuk mengabarkan ada Lomba Lukis Remaja Berbakat Nasional atau
biasa disingkat L2BHN. Jika kamu bisa lolos di tingkat kecamatan, kota, dan
provinsi, kamu akan pergi ke Istana Pelukis Cilik Indonesia. Di sana kamu diadu
lagi dengan peserta lain. Menurut Om, gambarmu itu sudah tidak hanya layak
untuk diikutkankan lomba tetapi memiliki nilai seni yang tinggi. Tapi, jika
Anne mau menambah pengalaman, mencari teman baru, dan melihat kemampuan
anak-anak lain, tak ada salahnya mengikutinya,” jelas Om Nyoman dengan penuh
senyum.
“E,
e, e, Om. Aku tidak punya alat mewarnai yang memadai. Krayonku sudah
pendek-pendek. Kertas yang kupakai biasanya kertas bekas. Pasti kalah dengan
anak-anak yang alat-alatnnya mahal! Aku tidak yakin bisa menjadi juara”, kataku
setelah beberapa saat sambil terbata-bata. Ibu menghampiriku dan mengelus
rambutku. “Nak, jika kamu ingin ikut, ibu akan mendukungmu sepenuhnya.” Kak
Andi menyeletuk, “kalah dan menang itu tak masalah. Lagi pula, itu tidak akan
menghilangkan talentamu. Tidak semua orang bisa menggambar sepertimu, lho! Maksudku
mau menggambar kucing, eh, jadi lebih mirip sapi!” Semua yang ada di ruangan
ini tertawa mendengar leluconnya.
“Pokoknya
ibu berusaha sekuat-kuatnya agar kamu bisa berhasil,” kata ibu sambil
menggenggam tanganku. “Tapi bagaimana dengan biayanya? Aku tidak tega melihat
ibu membanting tulang hingga tengah malam untuk membelikanku alat-alat lukis.”
Aku sudah hampir menangis saja melihat ibuku yang lembut hati. Bagaimana jika
aku kalah? Kasihan ibu sudah bekerja keras, tapi hasilnya nanti tidak ada.
“Ibu
kan sudah tidak perlu lagi membiayaimu sekolah. Selalu saja ada sisa dari
pendapatan ibu. Pokoknya biar kalah ibu tetap bersyukur karena memiliki anak yang
hebat!” jawab ibuku tersenyum. “Om, juga akan membimbingmu.” ujar Om Nyoman sambil tersenyum. “Kakak juga akan
membantu dengan uang tabungan kakak. Ini kesempatan yang baik buatmu. Kami
semua selalu mendukungmu. Kakak yakin suatu hari nanti kamu pasti berhasil.”
Aku
terharu mendengarnya, “Terima kasih semuanya. Aku akan berusaha semampuku”, tekadku.
“Nanti Om daftarkan kamu. Mulai besok jam tiga tepat Om akan datang untuk
melatihmu.”
Malam
ini aku susah tidur. Perasaan senang bercampur bingung. Senang karena bisa
diajari melukis oleh Om Nyoman, tapi juga bingung karena ibu harus membanting
tulang lebih keras lagi untuk membelikanku alat-alat. Aku bisa mendengar suara
mesin jahit dari ruang duduk. Entah sampa kapan ibu begini. Aku bertekad suatu
hari nanti aku akan membahagiakan ibu. Aku berdoa, “Tuhan, muluskanlah jalanku.
Bawalah aku dengan tangan-tangan sucimu sehingga aku bisa berhasil.”
Aku
selalu bangun mendahului matahari. Pergi sekolah sendiri. Setelah itu, pulang
sekolah segera berganti pakaian dan makan siang. Pekerjaan rutin ibu kuambil
alih. Menyapu, mencuci piring, menyikat baju dan menjemurnya, serta memberi
makan ayam. Aku berangkat bersama Kak Andi untuk mengantarkan pakaian pesanan
yang dijahit ibu. Jika kebetulan bertemu dengan teman di jalan aku dan Kak Andi
sering diejek, tapi tak pernah kami acuhkan.
Setiap
sore Om Nyoman datang untuk mengajariku. Makin hari aku terus memiliki
kemajuan. Dia memberiku krayon baru. Tidak cuma itu saja. Dia juga memberiku
cat, kuas, dan palet. Aku senang. Aku bertekad akan membalas budinya kelak.
Lomba
semakin dekat. Sesekali aku latihan hingga tengah malam. Ibu selalu menemaniku
sambil menjahit. Kasihan ibu. Dia kurang istirahat.
Saatnya
lomba. Pertama, aku harus mengikuti seleksi kecamatan dan di tingkat kota. Aku selalu
mendapat peringkat teratas. Ibu tak pernah absen mendampingiku setiap
seleksinya. Hingga akhirnya seleksi provinsi yang menentukan siapa yang akan pergi
ke Istana Pelukis Cilik Indonesia. Hatiku berdebar-debar. Tapi perasaan itu
tidak mengganggu konsentrasiku. Ibu duduk di kursi yang disediakan panitia.
Waktu selesai. Aku telah menyelesaikan lukisanku yang bertema Budaya Indonesia itu.
Pengumuman pemenang akan diberitahukan minggu depan.
Esoknya
aku masih melukis. Aku berharap aku bisa menang untuk membanggakan ibu dan
kakak. Tapi pengumuman yang dijanjikan tak kunjung tiba. Padahal sudah lewat
dua minggu. Aku duduk di atas pohon sambil memperhatikan burung-burung yang
pernah kugambar. Anak-anak itu bertambah besar. Mungkin sebentar lagi akan
belajar terbang. Sekonyong-konyong dari bawah terdengar suara kakak memanggilku.
“Dik, ada kabar dari Om Nyoman tadi!” Dengan cekatan aku turun dari atas pohon.
“Ada
apa? Mana Om?”, tanyaku. “Tadi Om Nyoman kemari membawa kabar saat kakak sedang
membuang sampah, tapi cepat-cepat pergi. Katanya dia mau bertemu seseorang. Dia
juga bilang tidak bisa mengajarimu nanti”, jawab Kak Andi. “Selamat, Anne. Kamu
juara 1! Kamu akan pergi ke Istana Pelukis Cilik Indonesia.”
Aku
hanya terpaku di tempat seperti orang tolol. Tiba-tiba aku melonjak-lonjak
seperti orang gila. Aku tidak bisa menahan kegembiraanku. Setelah reda barulah
aku bisa berbicara. “Benarkah itu? Dari mana Om tahu? Aduh, seperti sedang
mimpi saja. Kamu tidak sedang mempermainkanku kan? Jika ternyata begitu akan
kusiram dengan air!”
Kak
Andi tertawa cekikikan melihat tingkahku. “Tentu saja aku serius! Kau pikir aku
ini apa? Katanya, Om dengar dari temannya. Semua orang juga sudah tahu. Hanya
saja pengumuman resminya belum keluar.”
Malam
ini aku tidur nyenyak. Aku bermimpi pergi ke Istana Pelukis Cilik Indonesia
dengan pesawat terbang. Keesokan paginya, saat di sekolah, guru-guru
mengucapkan selamat padaku, bahkan teman-temanku yang biasanya menjauhiku lain
sekali sikapnya. Mereka lebih ramah terhadapku. Mereka tidak lagi mengejekku
ataupun mencemooh gambarku. Segala pandangan mereka padaku berubah.
Dua
minggu kemudian, saat aku masih belajar di kelas, tiba-tiba ibu guru
memanggilku. Katanya, aku dipanggil kepala sekolah. Aku berjalan ke ruang
kepala sekolah dengan gelisah. Perasaanku tidak enak. Ada apa ini? Tiba-tiba
aku menggigil.
Saat
masuk aku disambut dengan ramah oleh kepala sekolah. “Nah, Anne! Tentu kamu
sudah tahu bahwa ada kabar yang mengatakan bahwa kamu juara 1 kan?”, katanya
sambil tersenyum dengan sinar mata aneh. Aku menggigit bibirku sambil
mengangguk pelan. “Nah, kabar itu memang benar. Ini baru saja suratnya sampai.
Kalau tidak percaya kamu bisa membacanya”, katanya sambil menyodorkanku secarik
kertas. Aku membaca surat itu. Di situ tertulis bahwa aku mendapat juara 1 L2BHN
tingkat provinsi, tapi tidak ada keterangan bahwa aku akan dikirim ke Istana
Pelukis Cilik Indonesia.
“Apakah
aku akan pergi ke Istana Pelukis Cilik Indonesia?”, tanyaku. Tiba-tiba kulihat
raut wajah beliau yang tadinya riang menjadi suram. “Maaf, Nak. Saya tadi
menanyakan ke dinas apakah benar dengan begitu kamu pergi ke sana. Ternyata
tidak. Yang pergi hanya juara dua. Katanya ingin memberi kesempatan kepada anak
yang lebih besar karena kamu dianggap masih terlalu kecil untuk ke sana. Bapak
sudah berusaha agar keputusan itu diubah, tapi ternyata anak itu sudah berangkat
dua hari yang lalu.”
Tiba-tiba
aku merasakan sesuatu yang hangat di rongga mataku. Aku menangis tersedu-sedu di
ruang kepala sekolah. Tak dapat lagi kubendung air mataku yang telah meleleh
membasahi muka. Bu guru yang tadi memanggilku menghiburku. Ia merangkul dan
mengajakku keluar. Aku masih menangis sampai mataku merah. “Jangan kecil hati.
Kamu harus kuat. Lain kali bisa dicoba lagi”, kata bu guru dengan lembut. Aku
masih menangis sampai di kelas. Temanku mengelelingiku. Mereka menghibur dan
membesarkan hatiku. Tapi tetap saja tidak bisa menghibur hatiku yang lara.
Sia-sia semua usahaku. Perasaanku saat ini kacau. Hatiku serasa ditikam-tikam
pisau. Mengapa nasib begini kejam? Kalau ternyata kabar itu salah itu tak
masalah bagiku. Tapi ini sudah jelas-jelas aku juara satu mengapa juara dua
yang pergi? Ini pasti ada sesuatu yang tidak beres. “Tabahkanlah aku, Tuhan..”
Saat
berjalan pulang ke rumah aku masih terisak. Di tengah jalan aku bertemu dengan
Kak Andi yang juga sedang berjalan pulang. “Lho, mengapa kamu menangis, dik?
Ada yang mengganggumu?”, tanya Kak Andi prihatin. Lalu aku menceritakannya
sambil berjalan. “Entah jika tahun depan aku ikut lagi apa yang akan dikatakan
lagi supaya aku tidak ke sana. Pokoknya aku mau berhenti ikut lomba!”, tukasku.
Kak Andi kaget mendengar kata-kataku. “Kau jangan seperti itu. Kalah menang
sama saja. Lagi pula..” Belum selesai dia bicara aku langsung menjerit,
“Pokoknya tidak ada yang bisa menghentikan tekadku!” Aku langsung lari masuk ke
rumah. Semua orang memandang kami dengan heran. Kak Andi mengejarku. Aku lari
masuk ke kamar dan menguncinya. Aku merebahkan tubuhku di atas kasur. Aku
menangis terisak-isak sampai bantalku basah. Terdengar suara Kak Andi masuk ke
rumah dan bergegas ke kamarku. Dia mengetuk pintu, “Dik, buka pintunya.” Tapi
aku hanya diam saja. Dari balik pintu terdengar suaranya menghela napas
panjang. Aku masih terisak.
Lima
belas menit kemudian ada suara orang mengetuk pintu. “Nak, ayo makan. Makanan
sudah siap.” Itu suara ibu. “Aku masih kenyang”, jawabku sambil terisak.
“Bukalah pintumu, Nak”, ujar ibu dari balik pintu. Tapi aku diam saja.
Terdengar suara ibu menghela napas panjang dan melangkah pergi. Aku merenungi
nasibku. Aku berjalan menuju jendela. Kulihat pohon tempat biasanya aku
memperhatikan burung. Timbul niatku untuk keluar dan pergi ke atas pohon.
Aku
membuka jendela kamar lalu meloncat ke tanah. Aku berjalan mengendap-endap ke
pohon lalu memanjatnya. Aku melihat bayi-bayi burung itu berciap-ciap memanggil
induk mereka. Lama sekali aku berada di atas pohon. Sampai aku melihat seorang pengendara
sepeda motor berhenti di depan rumah. Itu Om Nyoman! Kuperhatikan dia berjalan
masuk ke pekarangan. Lalu mengetuk pintu depan. Terlihat kakak membukakan pintu
lalu mengajaknya masuk. Mungkin setelah ini mereka akan mencariku. Kakak pasti
tahu di mana seharusnya mencariku jika aku tidak ada di kamar. Aku bergegas
masuk ke kamar melalui jendela, lalu menutupnya. Aku juga menarik gorden
menutupi jendela. Tepat saat itu aku mendengar suara bercakap-cakap di luar.
“Aku
menyesal memberi tahu kabar itu, Bu. Seharusnya aku memastikan dulu kabar itu
benar atau tidak”, kata Om Nyoman. “Berita itu memang benar, Pak. Tapi
sayangnya bukan Anne yang pergi ke tingkat nasional. Ini kesalahan panitia!
Tadi Anne tidak mau makan siang karenanya. Mudah-mudahan nanti malam dia muncul.
Coba kau panggil dia, Ndi. Katamu dia biasa berada di atas pohon”, kata ibu.
Terdengar suara Kak Andi memanggil-manggilku. “Ke mana lagi anak itu?”, tanya
ibu cemas. “Nanti pasti muncul. Ibu tidak perlu cemas. Saya pamit dulu, Bu”,
ujar Om Nyoman. Masih terdengar suara kakak memanggil.
Aku
mandi dengan air dingin. Sedingin perasaanku. Sambil mengguyur badan dengan air
aku masih merenungi kejadian ini. Saat keluar, aku bertemu Kak Andi. “Ke mana
saja kau? Ibu sampai cemas memikirkanmu”, tanya Kak Andi. Tapi aku diam saja.
“Tuhan,
berikanlah hamba-Mu kesabaran dalam menghadapi cobaan ini. Berikanlah ketabahan
untuk terus berkarya. Jangan biarkan aku ini terpuruk dalam kelaraan”, doaku.
Hari-hari
selanjutnya aku berusaha tegar. Walau masih teringat kejadian yang mengecewakan
itu, aku tidak ingin ibu sedih melihatku. Karena itu aku melewatkannya dengan
melukis. Om Nyoman masih mengajariku. Tak jarang Om menawarkanku berbagai macam
kompetisi. Tapi selalu kutolak dengan halus. Aku tidak berminat dengan lomba
lagi, tapi aku ingin tetap melukis. Makin hari, makin banyak lukisanku. Baik
yang kertas maupun kanvas. Kamarku penuh dengan lukisan. Sampai-sampai sebagian
kutitipkan di kamar Kak Andi. Lukisanku kebanyakan menggunakan pewarna alami
yang kubuat sendiri. Ada yang dari kunyit, kembang sepatu, daun, dan masih
banyak lagi. Aku sering bereksperimen dengannya. Lukisanku juga kubuat lebih
ekspresif dan tanpa beban karena tidak terikat dengan tema-tema lomba. Aku juga
membuat formula warna yang kuberi nama Formula Violeta. Dengan formula ini aku
bisa melukis laut dalam yang indah sekali. Begitu pula jika aku mencampurnya
dengan putih akan menghasilkan langit biru yang kemilau.
Aku
juga sering menggambarkan perasaan hatiku. Di saat aku senang aku sering
menarikan kuas untuk menggambarkan perasaanku. Jika hatiku sedang lara atau sedang
jengkel, aku selalu menumpahkannya di lukisanku. Aku sering mengajari anak-anak
jalanan dan murid-murid Om Nyoman melukis dengan bahan alami. Bahkan aku
menyulap halaman rumahku menjadi tempat kursus melukis gratis untuk anak-anak
jalanan dan yatim piatu. Awalnya aku gugup untuk menjelaskan bagaimana cara
membuat warna-warna alami ini. Tapi seiring berjalannya waktu aku sudah
terbiasa. Formulaku bisa di taruh di mana saja, bahkan semakin terpapar sinar
matahari lukisanku makin berkilau.
Namun,
banyak pelukis lokal yang tidak suka dengan terobosan baruku. Mereka
menganggapku gadungan. Aku dianggap telah merusak keindahan seni rupa. Om
Nyoman bahkan diancam untuk membubarkan kursus ini. Tapi Om tetap
mempertahankan dan melindungiku. Aku sampai merasa tidak enak dengan Om. Aku
juga tidak dianggap pelukis cilik di sini. Karena itu aku sering naik ke atas
pohonku untuk menghibur diri.
Siang
ini ada seorang pelukis yang datang ke rumahku mengancam agar membubarkan
kursus gratisku yang dianggapnya konyol. Tapi aku tak kalah gertak. Aku melawan
segala pendapatnya. Kak Andi dan ibu juga membelaku. Pelukis itu marah besar.
Matanya melotot seperti katak hingga timbul perasaan bola matanya bisa keluar
dari rongganya. Dia meninggalkan rumahku sambil meneriakkan berbagai ejekan.
Para tetangga sampai keluar dari rumah mereka untuk melihat apa yang terjadi.
Aku
menghela napas panjang. Aku tidak berselera untuk makan siang. Padahal ibu
sudah memasak opor kesukaanku. Aku memanjat pohon lagi. Kupandang burung-burung
kecil yang sedang bermain di sarangnya. Lama sekali aku duduk di atas. Hingga
akhirnya ada suara Kak Andi memanggilku. Kelihatannya seperti tergesa-gesa.
“Anne, ayo cepat turun! Dik, aku..” Belum selesai Kak Andi bicara aku sudah
memotongnya. “Aku tahu maksudmu baik. Kamu tidak perlu menghiburku. Aku sudah
biasa dengan situasi seperti ini.” Kak Andi menyela, “Bukan itu maksudku. Aku
tadi mau..” “Sudah! Biarkan aku di sini”, kataku. Kak Andi sudah mulai
kehilangan kesabaran. Dicampakkannya secarik kertas di tangannya ke tanah. “Ya,
sudah! Padahal tadi aku mau memberitahumu kabar baik.” Kak Andi sudah hendak
melangkah pergi. “Hei, nanti dulu! Kertas apa itu?”, tanyaku. Aku cepat-cepat
turun dari pohon. Kak Andi menyerahkan kertas tadi. Raut wajahnya sudah ceria
lagi.
“Kita
semua diundang ke Venesia. Letaknya di Italia. Semua biaya akan ditanggung pemerintah
dan Venice Biennale. Itu adalah pameran lukisan paling bergengsi di dunia!” Kak
Andi menjelaskan. “Tapi aku kan tidak pernah berurusan dengan Veniece Biennal.
Apakah mereka juga ingin menegur tentang formulaku?”, tanyaku dengan tergagap.
Kak Andi tertawa. Rasanya seluruh dunia menertawakanku. “Tentu saja tidak!
Justru sebaliknya. Kamu akan diberi penghargaan karena penemuan formulamu yang
begitu gemilang!”
Aku
terperangah mendengarnya. “Tapi aku kan tidak pernah mengirim surat mengenainya
ke Venice Biennale”, kataku masih terbata-bata karena belum pulih dari rasa
kaget. Kak Andi merangkulku sambil mengajakku masuk ke rumah, “Aku tidak ingin
kamu terus tertekan karena ulah pelukis-pelukis lokal yang berpikiran sempit.
Karena itu aku mengirimkan karya-karyamu ke Venice Biennal. Aku mendapatkan
alamatnya dari internet. Aku menceritakan tentang kegagalanmu dalam lomba,
lukisanmu, penemuan formula, dan pelukis-pelukis lokal yang mencemooh karyamu.
Wah, aku sampai keringat dingin saat membuat surat dalam bahasa inggris.
Sampai-sampai aku harus konfirmasi dengan temanku yang jago bahasa asing itu
dan semua guru bahasa inggris di sekolahku dan guru bahasa inggrismu. Dan
itulah balasannya.” Aku langsung memeluknya. Ternyata Kak Andi begitu sayang
sekali padaku. “Ya, Tuhan Yang Maha Kuasa, terima kasih atas semua berkat yang
telah Kau berikan padaku. Aku bersyukur mempunyai kakak yang begitu sayang
padaku serta orang-orang disekelilingku yang selalu memberikan harapan dan
semangat”
Sore
ini aku memanjat pohon bersama kakak. Kami bisa melihat anak-anak burung itu
sedang belajar terbang. Perlahan tapi pasti, burung-burung kecil itu bisa mengepakkan
sayap mereka agar bisa terbang. Dengan pantang menyerah mereka akhirnya dapat
membumbung ke langit jingga merona. Kami melambai kepada anak-anak burung itu
disambut dengan kicauan induknya.
“Kak,
sekarang aku sadar. Aku harus seperti burung-burung itu. Dengan tabah dan kerja
keras mereka akhirnya bisa terbang ke angkasa. Bertumbuh dewasa dengan suka
cita. Walaupun mereka masih muda tak dipedulikannya rasa takut bila jatuh. Mereka
juga tidak peduli dengan kita yang sedari tadi menontoninya. Aku harus
meneladani mereka!”, tekadku penuh keyakinan. Kak Andi tersenyum lalu meninju
lenganku. Aku membalasnya, tapi dia menghindar dengan tangkas.
Om
Nyoman sudah diberitahu tentang hal ini. Dia memberi selamat padaku
berkali-kali. Ia bangga sekali kepada kakak dan aku. “Ibu, kita harus berkemas
dari sekarang saja. Yuk, kita keluarkan koper tua kita dari gudang”, usulku.
Kami pun sibuk berkemas.
“Aku
mau membawa kaus ini.”
“Kalau
Kak Andi mau membawa topi kesayangan.”
“Ah,
iya! Ibu lupa memasukkan minyak angin dan bedak.”
Kami
sibuk mengemasi ini dan itu. Tampak tumpukan barang-barang di pojok ruangan.
Kemudian aku berjalan untuk melihat kalender. Tiba-tiba aku berseru, “Hei!
Sekarang bulan Desember. Di sana kan sedang musim salju. Kita harus membawa
pakaian hangat.” Akhirnya kami membongkar lagi bawaan kami.
Akhirnya
tiba saatnya kami berangkat. Kami gembira sekali ketika sudah sampai di Italia.
Inilah seumur hidupku pertama kalinya pergi ke luar negeri. Kami disambut
seperti layaknya tamu terhormat. Ini pertama kalinya kami melihat menara Pisa yang
sesungguhnya. Biasanya aku hanya melihatnya dari buku sejarah. Di sana aku juga
disuruh bercerita bagaimana aku bisa melukis dengan formula bahan alamiku.
Sejak
itu aku sering diundang untuk mengadakan pameran di luar negeri. Ibu dan Kak
Andi selalu menyertaiku. Uang yang kudapat dari Venice Biennal kupakai untuk
membuat asrama untuk menampung anak-anak jalanan dan yatim piatu. Di sini
mereka tidak hanya diajari melukis. Aku mengundang guru matematika, sains,
sejarah, dan masih banyak lagi. Kuberi nama Children’s Achievements Palace. Aku
dan Om Nyoman bergantian mengajari mereka melukis. Aku juga membuat tempat
untuk memamerkan hasil karya mereka di dekat pantai di samping karyaku. Banyak
juga anak-anak dari kalangan menengah maupun atas yang belajar melukis padaku
pada jam-jam tertentu. Pelukis-pelukis yang dulu menentangku terperangah ketika
mengetahui bahwa aku diundang Venice Biennal atas keberhasilan formulaku.
Puji
syukur kepada Tuhan karena telah mengabulkan untaian doaku. Terima kasih Ibu, Kak Andi, Om Nyoman dan semua orang yang
senantiasa selalu mendukungku sehingga aku bisa berhasil menggapai cita-citaku.
Terima kasih pula burung-burung kecil yang telah mengispirasiku selama ini...
***
65
tahun kemudian
Kututup buku biografi nenekku. “Tak
kusangka ternyata nenek dulu pernah mengalami jalan yang berliku-liku sebelum
menjadi orang yang sukses. Banyak cobaan yang harus dihadapi untuk mencapai
keberhasilan, terutama untuk berbuat kebaikan. Kini aku menjadi seorang
pemimpin. Aku sudah berusaha memperbaiki masalah pangan dan politik. Kini
negeri ini tidak lagi mengimpor bahan pangan. Sudah jarang ada pejabat yang berani
korupsi. Namun, masih banyak yang mesti kuperbaiki. Aku ingin seperti nenekku
yang hingga saat ini masih menampung anak-anak jalanan dan yatim piatu serta
mengajari mereka banyak hal. Kabarnya mereka banyak yang menjadi orang sukses”,
benakku.
Di atas meja ada banyak sekali
tumpukan kertas. Di tengahnya ada secangkir susu kedelai. Kucium aromanya.
Kuteguk susu yang hangat. Senyumku menghiasi wajah lelahku. Aku bangga
meminumnya karena ini merupakan hasil dari keringat rakyat negeri ini. Masih
banyak tugas dan rintangan yang menanti. Namun, aku sudah siap menghadapinya, karena
aku masih punya secangkir harapan untuk memulai hari ini dengan lebih baik lagi.
**Selesai**
Ini cerpenku saat mengkuti Lomba Menulis Surat Remaja 2013. Puji Tuhan bisa menjadi juara harapan. Semoga tahun ini bisa menjadi juara lagi :)
Minggu, 06 April 2014
SURAT CINTA UNTUK BUNDA
Mataram, 22 Desember
2013
Kepada Bundaku
tercinta
Baluran Cintamu Mengubahku
dari Biasa Menjadi Bisa
Kurasakan baluran cintamu sepanjang waktu
Hangat, tentram, dan mendamaikan
Yang tidak akan pernah berakhir untuk selamanya
Yang tak dapat ditukar dengan apapun jua
Sekali pun aku mampu
Membangun butiran pasir menjadi gunung
Tak
dapat kubayangkan, bagaimana rasanya
menjadi dirimu, Bunda? Torehan demi torehan rasa sakit dan nyeri
menderamu di kala melahirkanku. Wajah letih dihiasi senyum kebahagiaan setelah
aku lahir. Menyusuiku untuk menghilangkan lapar dan dahagaku. Saat aku beranjak
balita, aku mencoret-coret tembok rumahku yang baru selesai dicat. Tidak hanya
tembok, tapi juga seprai, bantal, guling, lemari, dan meja. Kutorehkan semua
ekspresiku melalui spidol, pensil, dan krayon. Aku bahkan tidak merasa
bersalah. Namun, Bunda tetap tersenyum bangga. Menampakkan kepuasan seperti
orang yang baru menemukan harta karun terpendam yang saat itu tak dapat
kumengerti. Bahkan Bunda terus membelikanku krayon, spidol, pensil, dan pensil
warna.
Saat aku mulai
sekolah, Bunda bangun subuh-subuh untuk menjadi koki. Memasak makanan untuk
keluarga demi menciptakan energi baru untuk memulai hari yang baru. Bunda
selalu mengecup pipiku sebelum aku berangkat sekolah seraya berkata,
“Baik-baiklah di sekolah. Belajar yang rajin, Nak. Capailah mimpimu
seperti meraup butiran pasir” Ketika aku
pulang sekolah, Bunda selalu menyambut dengan senyum manis seraya bertanya,
“Bagaimana harimu di sekolah?” Dengan sabar Bunda mendengarkan kisahku. Ketika
aku menceritakan kisah gembiraku, Bunda juga turut berbahagia. Dikala aku terpuruk,
Engkau berusaha menyejukkan hatiku dengan kata-kata penuh motivasi.
Saat
malam tiba, Bunda menjadi guruku yang
paling setia. Menungguiku hingga aku selesai belajar dan menjawab semua
pertanyaan kekanak-kanakanku. Bunda juga bagaikan guru asronomi yang
menunjukkan berbagai rasi bintang padaku. “Ananda tidak akan pernah tersesat
jika memperhatikan lukisan rasi bintang Sang Pencipta. Lihatlah rasi bintang
Orion. Ekor kalajengkingnya selalu menunjuk ke arah barat”
Bunda
tidak pernah alpa tentang minat dan bakatku. Engkau selalu yakin aku dapat
meraih cita-citaku. Bunda selalu mendukung cita-citaku menjadi pelukis ternama.
Aku ingin seperti Leonardo da Vinci. Kadang kala, aku merasa tidak mungkin
meraih cita-citaku yang begitu tinggi. Aku merasakan dunia seakan meledekku. Tertawa
terbahak-bahak yang menggema dan bergaung di seluruh jagad raya. Berbagai
cemooh dan caci maki melandaku bagai tsunami.
Sungguh
menyesakkan hatiku. Aku merasa demikian kerdil. Apakah Bunda salah? Mungkinkah
Bunda hanya bercanda? Yang jelas Bunda tidak mungkin berdusta. Saat dimana
posisiku berada di titik nol. Bunda datang dengan baluran cinta yang terasa
hangat dan tentram. Alunan kata-kata penyejuk hati telah mendamaikan hati
kecilku. Sorotan matamu yang jernih menatapku penuh arti. Sulit kulukiskan
diatas kanvas. Semangat juangmu bergelora melalui denyut nadimu hingga mengalir
ke jiwaku. Dan aku bangkit kembali menegakkan kepala. Siap bekerja keras meraih
mimpi! Dari belakang, Bunda memberiku energi positif yang sangat berarti
untukku agar maju.
Kini,
aku dikenal sebagai pelukis cilik. Meskipun aku sadar aku belum meraih
cita-citaku seutuhnya. Dan aku yakin dengan cinta Bunda aku bisa melahirkan
karya-karya yang lebih baik esok. Aku sering merenungkan, bagaimana aku tanpa
Bunda? Ananda bukanlah siapa-siapa. Bunda benar-benar memahamiku. Andai saja
Bunda menyembunyikan semua alat tulisku agar aku tidak mencoret-coret, tentu
aku tidak akan bisa berekspresi menemukan minat dan bakatku. Bunda mengubahku
dari aku yang biasa menjadi bisa! Terima kasih Bundaku tercinta.
Tuhan,
kupanjatkan puji syukur kehadirat-Mu atas karunia yang terindah yang kau
berikan padaku. Terima kasih Engkau telah memberikanku Bunda yang hebat.
Berilah berkah panjang umur dan kesehatan yang baik sehingga kelak aku dapat
membahagiakan Bunda.
Peluk Cium Ananda,
Metta Alvionita
Heriyanto
CERPEN: DENTANG CINTA SEPANJANG MUSIM (KARYA: METTA ALVIONITA HERIYANTO)
Malam
yang sepi dan sunyi. Kabut tipis melingkupi keheningan malam. Sebuah lampu
jalan berkedip remang-remang. Yang terdengar hanya desau angin. Aliran air yang
menggelitik bulu roma. Sang rembulan menyembul dari balik awan sirius. Ekspresi
malam yang cukup membuat orang ciut seperti celurut. Aku pirsa seorang wanita
tua dengan tongkatnya berjalan pelan ke sebuah pemakaman membawa serangkai
bunga yang indah dan harum semerbak. Gaun hitamnya berdesir di antara
rerumputan dan dedaunan kering. Rambut putihnya berkibar oleh hembusan angin
malam. Memantulkan sinar keperakan. Nafasnya tetap berasimilasi dengan tenang. Aku
terbang tanpa suara mengikuti wanita tua itu dari atas kepalanya. Dia berhenti
di depan sebuah batu nisan putih yang berdebu. Di sana tertulis:
Raisa
Agustina (17 Agustus 1996 - 15 Desember 2093)
Walaupun ragaku telah membusuk
Rongkonganku hanya tinggal sukma
Helaian rambutku menyatu dengan tanah
Dan darahku mengalir bersama siklus air
Jiwaku tak akan pernah hancur untuk menyelamatkan
planet ini
Kuingin bereinkarnasi di setiap ruang dan waktu
Menyempurnakan setiap detail misiku
Wanita
tua itu tersenyum dan duduk di samping batu nisan. Ditaruhnya rangkaian bunga
itu ke tanah dan menngucapkan doa. “Aku tak akan melupakan jasa dan cintamu. Aku
akan selalu melanjutkan misimu. Menyempurnakan setiap detailnya. Aku sudah
menceritakan kepada anak-anak dan cucuku tentang kisah perjuanganmu” Dan ia
mengenang kembali memori bertahun-tahun silam.
*
Aku
hanya seorang gadis jelata yang berasal dari keluarga miskin. Keluargaku memang
miskin harta, tapi tidak miskin iman. Aku tahu, aku tidak bisa menuntut banyak
kepada orangtuaku yang hanya bekerja sebagai pemulung. Upahnya tidak banyak.
Namun, cukup untuk makan tiga kali sehari. Aku mendapat beasiswa dari pemkot
karena aku anak tak mampu. Semua temanku mengetahui latar belakangku. Tak
jarang mereka mengejek, mencemooh, dan mencaci makiku. Lidah mereka sering
membuat hatiku sakit! Seperti berjalan di atas jalan setapak berduri dengan
kaki telanjang. “Idih, ada anak sampah lewat! Makan ditemani sampah, mandi
dekat sampah, tidur bersama sampah!” Aku tahu Tuhan sedang menguji kesabaranku.
Setiap kali mereka mengejekku dengan lidah tajam, aku selalu berdoa, “Tuhan,
berikanlah aku kesabaran dalam menghadapi ujianmu, agar aku bisa membanggakan
ayah dan bunda”
Setiap
pulang sekolah, aku membantu ayah dan bunda memulung sampah. Kupungut semua
sampah yang dapat aku lihat dengan pengait besiku. Aku sering diledek ketika
kebetulan bertemu dengan teman-temanku. “Oi, anak sampah! Boleh kami ikut
membantu?”, teriak salah seorang anak. Mereka akan tertawa terbahak-bahak. Walaupun
diperlakukan demikian aku tidak cengeng. Kepalaku tegak dan pandangan lurus ke
depan.
Setelah
karung besarku telah penuh sesak, aku akan beristirahat di bawah pohon mahoni
di taman kota. Aku sering curhat dengannya walaupun aku tahu mungkin dia tak
akan mendengar. Pohon ini bertambah suram sejak beberapa pohon di sekitarnya
ditebang untuk memperlebar jalan. Daunnya yang hijau telah menguning dan
meranggas. Kulit kayunya bertambah rapuh.
Di
tubuhnya ditempeli berbagai sirkuler. Mulai dari kuras wc hingga kampanye-kampanye
yang penuh pencitraan palsu. Tak tahukah mereka itu melukainya? Tak
tersentuhkah hati mereka kalau dia terluka, sampai mengeluarkan darah? Ada pula
yang mengukir berbagai sumpah serapah seakan itulah realisasi dari pohon mahoni
ini. Hari ini ada lagi selebaran kuras wc yang dipakukan dengan paku payung di
tubuh sahabatku. Aku mencabut paku itu. Seketika lecet itu mengalirkan darah
kentalnya. Aku seakan dapat merasakan kenestapaannya. Aku ingin menyembuhkannya.
*
Aku heran melihat gadis yang begitu
tegar ini. Tiap siang ia selalu datang ke hadapanku dan duduk di bawah
keteduhanku yang makin hari makin sirna. Aku tahu gadis ini adalah seorang
pemulung. Mungkin bagi orang-orang yang melihatnya, dia adalah anak kampungan
yang bermasa depan suram. Dan kemungkinan sinting karena berbicara dengan pohon.
Namun, aku bisa mengetahui di balik mata ketulusannya itu ada sepucuk tunas mungil
yang tumbuh di dalam hatinya.
Siang
ini, dia kembali bercerita kepadaku tentang teman-temannya, adiknya, dan
teman-temanku yang makin sedikit. Kepalanya menengadah menatap tangan-tanganku
yang nelangsa. “Kau lihat sungai itu, Sobat? Sampai kapan wajahnya dikotori sampah-sampah
tanpa ada yang membersihkannya? Sungguh aku bingung. Siapakah yang harus
bertanggung jawab atas semua ulah manusia?” Kuperhatikan air muka geramnya. Air
mata menggenangi pelupuk matanya. Sungai mengalir di pipinya dan bermuara di
leher. Kurasakan empatinya. Aku merasa kasihan pada nasib teman-temanku yang makin
lama kuantitasnya berkurang. Mungkinkah aku akan bernasib sama dengan mereka?
Aku hanya bisa berdoa, “Tuhan, aku tahu aku hanya sebatang pohon renta yang
sakit-sakitan. Tapi aku tetap mengharapkan tangan-tangan bijaksanamu untuk
memberikan wewenang kepada gadis ini menjadi penyelamat kami yang akan
menyadarkan semua orang betapa dibutuhkannya peranan kami dalam ekosistem”
Kusisipkan doaku kepada seekor murai yang bertengger di pundakku dan
menyebarkan doaku kepada kawan-kawan.
Gadis
ini juga melantunkan puisi untuk menyemangatiku. Begitu merdu dan indah sampai
aku mengira itu suara seorang penyanyi terkenal. Aku terbawa arus.
*
Perasaanku begitu berkecamuk dalam
perjalanan pulang ke gubukku. Aku dongkol kepada Adit, teman sekelasku, yang menista
orangtuaku. Perasaan gundah juga menyulut hatiku. Pohon mahoni, satu-satunya temanku
selama ini, makin hari makin buruk keadaannya. Aku juga naik darah kepada
pemkot yang terus-menerus memperlebar jalan hanya untuk menanggulangi masalah
kemacetan. Mereka juga tak pernah menyiram pohon-pohon di jalur hijau dan taman
kota. Tak sadarkah mereka betapa dibutuhkannya pohon-pohon bagi bumi? Tak
tahukah mereka pohon juga makhluk ciptaan Tuhan, sama seperti mereka? Alpakah
mereka bahwa mereka sebenarnya juga membutuhkan molekul-molekul oksigen?
Aku ingin menyelamatkan bumi, walau
hanya dengan tangan-tangan mungilku. Aku ingin menyelamatkan sahabatku berikut kawan-kawannya.
Namun,
bagaimana caraku memulainya? Aku berlari sepanjang perjalanan dengan tangan
kanan memanggul karung berisi penuh sampah, dan tangan kiri menggenggam
pengait. Tak kupedulikan suara-suara heran dan ledek-meledek. Kutumpahkan
sampah-sampah yang berhasil kupungut. Kuaduk mereka untuk mencari sesuatu yang
dapat berarti untuk misi penyelamatanku. Lalat-lalat sebesar kedelai
beterbangan. Ketika aku menggenggam bonggol jagung yang mulai membusuk, sebuah
ide terlintas dalam benakku.
*
Aku merasa kian rapuh. Semilir angin
menghembus lembut daun-daunku yang menguning. Hanya sedikit daun hijau pada
diriku. Itupun hijau pucat. Aku beretiolasi. Aku terus mengulang doaku siang
tadi. Kutitipkan doaku pada angin malam, bintang, peri tidur, kunang-kunang, dan
keheningan malam. Sebagian jiwaku lara dan sebagiannya lagi penuh pengharapan. Aku
berusaha melupakan perasaanku yang sendu. Raut wajah gadis itu terlukis dalam
sanubariku sepanjang malam. Kututup mataku. Sebuah memori terlintas dalam
benakku. Aku melihat diriku yang muda. Hijau dan gagah. Gadis itu bermain
kejar-kejaran bersama adiknya. Ia tersandung akarku. Adiknya sudah berlalu
sambil tertawa-tawa. Tak disadarinya bahwa kakaknya terluka. Gadis ini
terisak-isak. Tidak ada yang mendengar suaranya memanggil adiknya. Lehernya
tercekat. Ia kemudian bersandar ke tubuhku pasrah lalu tertidur. Diam-diam aku
memanggil peri pohon untuk mengobati lukanya dan memanipulasi ingatannya.
Ketika dia terbangun, ia sudah tidak ingat lagi akan kejadian sebelum ia
tertidur. Tapi dia memiliki perasaan kuat denganku. Sejak itu ia sering kemari.
Aku tersenyum mengingat momentum itu. Aku seakan merasakan ada tangan-tangan
Tuhan yang sedang bekerja. Kulantunkan puisi yang tadi kudengar yang hanya
didengar oleh seekor burung hantu hitam.
*
Aku bangun lebih pagi dari biasanya,
walaupun aku tak bisa tidur nyenyak semalam dan terlalu letih. Adikku terduduk
di sebelahku sambil menggosok matanya. Ada semangat baru yang bergejolak melalui
setiap sel darah dalam tubuhku. Nadiku berdenyut penuh gelora. Adikku menoleh,
“Jadi kan, Kak?” Aku hanya tersenyum simpul dan bergegas keluar kamar.
Untunglah adikku juga mendukung misiku walaupun sepertinya ia tak begitu yakin.
Aku menatap ke luar jendela yang masih gelap. Aku seakan melihat titik cahaya
kecil bermil-mil jauhnya dari tempatku. Kumulai hari ini dengan serumpun cinta.
*
Aku terkejut melihat dua gadis
menghampiriku. Sahabatku dan adiknya. Tapi, aku juga melihat seorang pemuda
berjalan di belakang mereka di antara semak belukar. Itu tak penting. Aku sudah
sering melihatnya setiap pagi. Mereka berdua sama-sama menenteng dua
tas
plastik. Kelihatannya berat. Aku berusaha menebak-nebak apa kiranya yang dibawa
dan apa yang akan mereka lakukan. Sahabatku mengeluarkan sebotol cairan kuning.
Ia menatapku penuh arti seraya berkata, ”Ini adalah langkah pertamaku, Sobat.
Aku tak tega melihat engkau dan kawan-kawanmu menderita. Jadi aku dan adikku
membuatkan vitamin untukmu. Semoga dengan ini kalian cepat pulih” Lalu ia tumpahkan
sedikit demi sedikit pupuk cair itu. Aku dengan cepat mengisapnya melalui
bulu-bulu akarku. Rasanya nikmat dan aku merasa kesehatanku mulai pulih.
“Tuhan, aku sampaikan rasa terima kasihku karena Engkau telah mengabulkan
doaku. Berkatilah gadis ini. Muluskanlah setiap langkah aksi penyelamatannya”
*
Aku berolahraga setiap bagi di taman
kota sebelum berangkat kerja. Aku turut prihatin melihat kebijakan pemkot yang
semena-mena terhadap pohon-pohon di kota. Taman kota yang dulunya hijau dan
indah, sekarang gersang dan suram. Aku sering mengadakan protes melalui
tulisanku. Sayangnya, tidak ada yang hatinya tergerak untuk melakukan sesuatu
yang lebih berarti untuk menyelamatkannya.
Pagi ini taman sepi. Hanya ada aku
dan seorang tukang sampah. Tiba-tiba, aku melihat dua gadis dengan seragam putih
biru lusuh memanggul tas sekolah usang dan menjinjing tas plastik yang penuh
entah dengan apa. Aku merasakan gelora semangat mereka menyeruak melewati udara
pagi. Aku mengikuti mereka diam-diam. Aku melihat mereka berhenti di bawah
sebatang pohon mahoni. Aku tercengang mendengar perkataan gadis yang paling
tua, ”Ini adalah langkah pertamaku, Sobat. Aku tak tega melihat engkau dan
kawan-kawanmu menderita. Jadi aku dan adikku membuatkan vitamin untukmu. Semoga
dengan ini kalian cepat sembuh” Aku
melihat gadis itu menuangkan cairan kuning itu yang kupahami sebagai pupuk yang
diolah dari sampah organik. Mereka berlalu dan menghilang di balik tikungan
jalan. Aku mengerling ke pohon itu. “Kau beruntung memiliki sahabat yang sangat
peduli padamu” Aku berlalu dengan senyuman merekah. Siapa sangka seorang gadis lusuh
sangat peduli dengan lingkungannya? Sementara banyak orang berpenampilan mewah,
berpendidikan, tapi semena-mena. Mereka membersihkan rumahnya dengan sangat
cermat dan menenteng sampah dan membuangnya sembarangan di sungai, di bawah
pohon, dan berperilaku jorok. Kapan mereka akan sadar?
*
Aku tak hentinya melakukan
penghijauan. Aku sering menanam biji-biji yang kudapatkan dari buah busuk yang
kupulung. Aku tidak hanya menanamnya di rumah, tapi juga di dekat sahabatku
agar dia tidak kesepian. Setiap pagi, aku dan adikku menyiram mereka atau
memberi pupuk. Kami selalu melakukannya pada pagi hari sebelum taman kota
ramai. Hanya ada tukang sampah dan satu atau dua orang yang berolahraga. Tiap
sepulang dari memulung, aku selalu membuat pupuk cair bersama adikku, Leni.
Sebagian kami jual kepada kios Bu Ani. Sebagiannya kami simpan untuk persediaan.
Uang penghasilan dari menjual pupuk kami berikan kepada ayah dan bunda. Mereka
sangat bangga kepada kami. Mereka selalu berpesan kepada kami untuk gigih
menggapai cita-cita dan menyelamatkan bumi kita yang makin hilang rona
hijaunya. “Terus berkarya dan gigih berkerja, Nak. Jangan pula lupakan sekolah
kalian. Ayah selalu mendukung kalian”, pesan ayah. Bunda juga mendoakan,
“Semoga kalian bertumbuh menjadi anak-anak yang berguna bagi bangsa dan negara.
Kembalikan lagi semburat warna hijau bumi kita”
Ayah tak jarang membantu kami
membantu membuat pupuk bila ada waktu senggang. Bunda juga makin rajin
membesarkan pohon-pohon yang aku dan Leni tanam untuknya. Tidak hanya pupuk
yang kami buat. Aku membuat bunga dari kapas popok yang dikeringkan. Aku pernah
membacanya di koran yang telah dibuang di tempat sampah. Leni juga rajin
membuat mainan dari kaleng-kaleng minuman bekas. Kami pun menjualnya di toko
mainan. Sampah-sampah itu menjadi rupiah.
*
Aku turut bersuka cita untuk sabahatku
yang makin akrab dengan alam. Sekarang, aku sering melihatnya memulung sampah
bersama adiknya di sekitar sungai yang melewati kota ini. Perlahan tapi pasti,
kecantikan sungai ini kembali menyeruak. Sebelumnya, memang warga yang tinggal
di sekitar sungai itu mencibirnya. Namun, perlahan mereka mulai sadar. Siang
ini, aku melihat mereka membantu sababatku membersihkan sungai itu. Sungai itu
begitu gembira. Suara percikan airnya begitu menggelitik telinga. Aku dan
kawan-kawanku histeris melihat kecantikan sungai itu. Airnya yang sekarang
perlahan jernih memantulkan semburat sinar matahari jingga yang sangat cantik.
Aku melihat sunggingan senyum gadis itu menghiasi binar wajahnya.
Aku
sendiri merasa kesehatanku mulai pulih karena dirawat secara rutin oleh sahabatku.
Dari ujung-ujung jemariku tumbuh sepucuk daun harapan. Aku selalu mengucapkan
syukurku kepada Yang Maha Kuasa. “Tuhan, aku tahu Kau selalu memberkati
anak-anak yang peduli kepada sesama makhluk ciptaanmu. Berkatilah dia seperti
yang telah diimpikannya”
Sungai
itu tak hentinya berceloteh tentang kegembiraannya dan kecantikannya yang
sempat lenyap. Ia tak lupa bersyukur kepada Tuhan. Aku juga menitipkan rasa
terima kasihku kepada kawan-kawanku yang telah bersama-sama mendoakan sahabatku
itu melalui murai-murai.
*
Kulangkahkan kakiku ke sungai.
Beriak airnya memantulkan sinar mentari yang baru saja terbit. Kurasakan
baluran cinta udara pagi menyejukkanku dan mendorongku untuk terus melangkah ke
tempat tujuanku. Ia bukan sungai nestapa yang dahulu. Dia bak kekasihku.
Aku telah tiba ke tempat tujuanku.
Kusapa gadis yang kira-kira sebaya denganku, “Selamat pagi, Ana. Hari yang
cerah, ya” Dia tersenyum lebar ketika melihatku. Ia langsung berlari
menghampiriku. “Selamat pagi juga, Sobat. Ada apa gerangan engkau datang
pagi-pagi begini?”, sahutnya. Aku merangkulnya dan merogoh sebuah kantong dari
karung goni yang diikat dengan rafia merah. “Aku ingin kalian menanamnya. Jika
mereka sudah bertambah dewasa, mereka akan menambah kecantikan sungai ini dan
memberikan keteduhan untuk kalian. Dikau bisa melihat pohon mahoni yang di
sebelah sana itu? Ya, yang itu. Dia adalah sahabatku. Aku sering curhat kepadanya.
Aku senang dia mulai sehat sekarang”
Sambil mengucapkan terima kasih,
teman baruku itu berlari ke rumahnya sedangkan aku menapaki jalan yang beraspal
melintasi jembatan. Aku melongok ke bawah dan kulihat sungai itu tersenyum
penuh terima kasih yang terbentuk dari gelombang airnya yang berkilau
memantulkan sinar mentari.
*
Aku hanya bisa berdecak kagum dengan
pionir hijau cilik ini. Ia sering menanyakan kabarku. Dia terus bercerita
tentang aksi penyelamatannya dan sering mengonfirmasi tempat mana lagi yang
harus ia selamatkan. Setiap malam aku selalu menitipkan jawabanku kepada peri tidur
agar memberitahunya melalui bunga tidur. Terus-menerus kulukiskan paras
wajahnya yang manis dalam sanubariku. Tiap pagi dia selalu menyapa dan
menanyakan keadaanku. Tak lupa dia menghaturkan rasa terima kasih atas
nasihatku.
Sekarang banyak serangga yang
bermain-main di taman ini. Makin banyak spesies murai yang bernyanyi bagaikan konser
alam gratis. Aku sering melantunkan puisi yang nantinya dibawa angin. Sore ini,
seperti biasa, dia datang menghampiriku dengan membawa karung sampah seperti dan
menyandang ransel dipunggungnya. Dia memelukku erat seraya menyapaku. Aku hanya
bisa menggelengkan kepalaku pelan karena gemas. Dikeluarkannya sebuah botol
dari ranselnya. Dituangkannya ke tanah yang dengan cepat aku isap. Dia
mengelusku penuh sayang dan duduk di sisiku sambil mengerjakan tugas sekolahnya.
Kulindungi dia dari sinar ultraviolet dengan daun-daunku yang hijau dan lebat.
Seekor kupu-kupu putih bersayap lebar hinggap di rambutnya seperti sebuah
jepitan rambut. Ia tampak cantik dengan kupu-kupu itu walaupun dengan seragam
lusuhnya.
*
Kubawa kakiku menuju gubuk reyotku.
Aku tumpahkan sampah-sampah yang siang tadi aku pungut. Aku tersenyum memandang
sampah-sampah ini. “Tuhan, aku sangat berterima kasih kepadamu karena telah
memuluskan misiku. Lindungilah ciptaanmu dan sadarkan mereka yang masih belum
saling mencintai sesama makhluk-Mu”
Tiba-tiba pintu dapur menjeblak
terbuka. Adikku datang sambil besorak gembira seperti kesetanan. “Ada apa denganmu,
Leni? Hei, jangan tertawa terus! Ada apa sih?” Kuguncang tubuhnya keras-keras.
“Kakakku hebat! Kakak berhasil! Kakak Sang Pionir!”, soraknya. Aku masih tidak
mengerti. Tiba-tiba aku melihat ayah dan bunda juga berlari menghampiriku.
Mereka memelukku dengan erat. Bunda menangis terharu. Ini membuatku makin
bingung. “A.. A.. Ada ap..pa inii?”, tanyaku terbata-bata. Bunda mengelus
pundakku. Bunda mulai berbicara, “Tuhan telah memberkatimu, Nak. Ada seorang
wartawan surat kabar kemari dan memberikan penghargaan kepadamu atas semua misi
penyelamatanmu. Kamu akan masuk koran, Nak! Selain itu perusahaannya memberikan
beasiswa untukmu hingga lulus kuliah dan memberimu uang saku tiap bulannya. Bunda
sangat bangga kepadamu, Nak”, Bunda memelukku erat dalam isakan tangis harunya.
“Rumah kita juga akan direnovasi. Mereka akan menyediakan tempat khusus untuk
kita sebagai tempat mengolah sampah. Mereka juga terinspirasi untuk menanam
pohon di sekitar tempat kerja mereka. Pria itu sedang memproses pengaduan
kepada pemkot agar tidak terus menerus memperlebar jalan dan menceritakan
kegigihanmu”, tutur adikku penuh semangat. “Kamu memang dutanya alam. Ayah
bangga padamu! Kau Sang Pionir Hijau!”, sahut ayah sambil menepuk bahuku
terlalu keras. Sebuah sungai mengalir di pipiku yang memerah. “Di mana orang
itu?” Dan seketika aku terkesiap melihat seorang pria berdiri di depan pintu
dapur sambil bersandar di kusen pintu. Ia tersenyum ramah kepadaku. Ia hanya
mengatakan, “Selamat, Raisa. Kau adalah inspirasi kami”. Tak salah lagi. Dia orang
yang sering kulihat di taman kota belakangan ini. Aku menengadah ke langit.
“Tuhan, terima kasih atas semua berkah yang telah Engkau limpahkan kepada
hamba-Mu ini. Aku akan terus berjuang untuk menyelamatkan planet biru ini.
Berikan aku kegigihan dan kerendahan hati untuk menjalankan misi yang telah kau
titipkan kepadaku. Semoga dengan ini semua orang sadar, betapa mereka membutuhkan
bumi ini” Aku menoleh ke pria itu dan mengucapkan terima kasih
sedalam-dalamnya. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi.
*
Angin malam menghembus melalui
daun-daunku. Burung-burung berhenti berkicau yang diganti dengan hewan
nokturnal. Seekor burung hantu bertengger di lenganku sambil beruhu panjang. Namun,
tiba-tiba terdiam seakan mendengarkan sesuatu. Tiba-tiba dia menukik dan
menghujam seekor tikus yang mencicit tak berdaya. Tiga ekor kelelawar beterbangan
di taman. Laron-laron mengitari lampu-lampu taman. Seekor kucing mendengkur di
bawah kursi taman. Pohon-pohon mungil yang ditanam sahabatku sudah tidur pulas.
Titik-titik air mulai turun ke bumi secara perlahan yang sedingin es. Tiba-tiba
aku merasakan gerakan di dekatku. Aku langsung waspada. Oh, tenyata hanya gadis
sahabatku. Tapi apa yang diperbuatnya malam-malam begini? Semua hewan dan
tumbuhan berpaling kepadanya. Ia menghampiriku. Wajahnya sembab. Air matanya
memantulkan cahaya bulan yang keperak-perakan. Bahkan sungai pun menyadari kehadirannya.
Makin lama langkahnya makin cepat.
Ia berlari meghampiriku. Memelukku dengan erat sementara hujan semakin lebat. Dia
mengisahkan kejadian tadi sore dengan bersemangat. “Aku sangat beruntung bisa
mengenalmu. Aku tahu engkau selalu mendoakanku dan memberiku nasihat melalui
mimpi-mimpiku. Terima kasih atas segalanya, pohonku. Aku tak akan mungkin bisa
seperti ini tanpa butiran kata-kata doamu. Aku selalu berterima kasih kepada
Tuhan, walaupun aku tidak punya teman di sekolah, tapi aku mempunyai teman yang
sangat setia. Aku tak peduli jika kau hanya sebatang pohon tua”, isaknya. Ia
makin mendekapku dengan erat. Bajunya basah kuyup dan badannya menggigil
kedinginan. Tanpa yang ia duga, aku balas memeluknya dengan tangan-tangan
besarku. Ia sangat terperanjat. Namun, ia mendekapku makin erat. Lama kami
berpelukan sementara hujan mulai berhenti dan bintang-bintang kembali muncul.
“Aku juga beruntung mempunyai teman sepertimu. Aku yakin dengan ketegaranmu
dikau dapat melindungi bumi dengan sentuhan tangan mungilmu. Bagiku, engkau
adalah patriot hijau”, bisikku.
*
Sinar rembulan menyinari pemakaman
dengan sinar keperakannya. Wanita tua itu masih duduk di samping makam ibunya sambil
mengelus-elus batu nisan. “Engkau telah berhasil menyelesaikan misi yang
diberikan-Nya. Bahkan walikota tersentuh dengan aksimu. Ia makin rajin menanam
pohon. Sementara Bunda berbaring dengan tenang di sisi-Nya, taman kota itu
menjadi taman percontohan. Indah sekali. Berbagai spesies bunga dan warna
ditanam di sana. Kupu-kupu leluasa mengisap nektar. Kunang-kunang berpendar
indah di malam hari. Berbagai hewan malam berkeliaran dengan damai. Setiap hari
taman itu ramai dengan turis, baik turis lokal maupun turis mancanegara. Sebuah
monumen dibangun dekat pohon mahoni itu untuk memperingati jasamu. PBB
memberikan penghargaan kepada kota kita sebagai kota hijau. Walikota merasa tak
pantas untuk menerimanya. Akhirnya akulah yang menerima penghargaan itu untuk
mewakili Bunda”, gumamnya. Tanpa disadarinya bulir-bulir air mata membasahi
wajah keriputnya. “Mimpimu tak pernah tandas walaupun Bunda merasa tertekan
dengan caci maki. Semoga generasi mendatang senantisa meneladanimu”
Setelah
sekian lama, ia berdiri. “Beristirahatlah dalam damai, Bunda. Semoga engkau
bahagia di alam-Nya”, kata wanita itu dan berlalu meninggalkannya. Aku pun
merasa tersentuh dan kembali ke pohon tempat tinggalku tanpa suara. Angin
bertiup tenang dan sejuk. Aku merasakan pemakaman itu penuh dengan kisah
inspirasi. Sementara wanita tua itu berlalu, aku melihat seorang wanita cantik
dengan gaun hijau panjang yang indah sekali. Mahkota bunga menghiasi kepalanya.
Senyumnya mengikuti kepergian wanita itu hingga menghilang di tikungan jalan.
Diakah Dewi kahyangan kami yang sudah kukenal sejak lampau?
Bulir air memantulkan nuansa hijau
Kureguk dengan tangan mungil penuh nikmat
Meninggalkan bayangan sesepuh di berkas
delta
Sekutu kupu-kupu putih menjelajahi
tubuh renta
Menyisakan sebaris nama kenangan
Dari sekawanan waktu ke waktu
Sabtu, 05 April 2014
PENYEBAB RAMBUT MERINDING
Sering kali saat kita sedang menonton film horor atau menyaksikan suatu drama tragedi rambut (yang sering disalahartikan sebagai bulu) kita merinding. Apakah penyebabnya?
Rambut (bukan bulu) yang berdiri atau 'merinding' bisa terjadi pada manusia dan kebanyakan mamalia sebagai akibat terjadinya kontraksi pada otot erektor kecil yang terdapat di dalam kulit. Adanya kontraksi otot tersebut bisa ditandai dengan gundukan di sekitar tempat tumbuhnya rambut. Beberapa reaksi emosional (seperti rasa takut, rasa kagum saat sedang menikmati suatu karya seni atau mendengar musik) juga bisa menyebabkan merinding. Saat dalam suatu situasi tertentu (dingin, takut, kagum dsb) tubuh akan menghasilkan hormon stres yang disebut adrenalin. Adrenalin akan memicu peningkatan darah yang dipompakan ke dalam otot sehingga menyebabkan merinding.
Langganan:
Postingan (Atom)


